Categories
Uncategorized

Sejarah Kerajaan Buton

Sejarah Kerajaan Buton – Kesultanan Buton adalah salah satu kerajaan bergaya Islam di Indonesia di Sulawesi Tenggara. Pembentukan kerajaan ini tidak lepas dari peran orang-orang Malaysia yang tiba di wilayah Buton pada akhir abad ke-13 Masehi.

Ada empat karakter terkenal Malaysia, yaitu Sipanjongan, Sijawangkati, Simalui dan Sitamanajo. Keempat orang dari Semenanjung Melayu datang ke Buton secara terpisah dengan pengikut mereka masing-masing.

sejarah kerajaan buton
sejarah kerajaan buton

Setelah lama berinteraksi di daerah Buton, mereka akhirnya membangun desa yang berdiri dengan pemerintah masing-masing. Di sisi lain, wilayah buton dihuni oleh beberapa komunitas adat seperti Tobe-Tobe, Kamaru, Wabula, Todangan dan Batauga. Pada tahun 1332, desa-desa yang dibentuk oleh orang-orang Malaysia dan masyarakat adat bersatu dalam satu, untuk mendirikan Kerajaan Buton. Raja pertama pemerintahan Buton adalah seorang wanita bernama Rajaputri Wa Kaa Kaa.

Sejarah Kerajaan Buton

Sebelum pemerintahan Buton menjadi kerajaan bergaya Islam, konon sangat dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Agama Buddha Hindu di Buton diperkirakan berasal dari kerajaan Majapahit. Ini didukung oleh informasi yang terkandung dalam buku Mpu Prapanca, Negarakertagama, yang menyebutkan istilah Butuni untuk menjelaskan Pulau Buton, yang merupakan salah satu daerah yang ditaklukkan oleh Gadjah Mada.

Pemerintahan Buton adalah kesultanan dari pemerintahan raja keenam La Kilaponto atau Raja Murhum (1491-1537). Ada beberapa pendapat berbeda tentang masuk dan berkembangnya Islam di Buton. Pertama, pandangan bahwa penyebaran Islam di Buton diwakili oleh Kesultanan Bone di Sulawesi Selatan.

Kedua, kepercayaan bahwa ajaran Islam memasuki Buton dikemukakan oleh seorang sarjana Timur Tengah Sayid Jamaluddin al-Kubra pada tahun 1412. Kemudian Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani dari Johor tiba, yang berhasil mengislamkan Raja Marhum. Ketiga, diyakini bahwa ajaran Islam tentang buton berasal dari kesultanan Ternate, yang dibawa oleh Sultan Zainal Abidin.

Islam berkembang sangat cepat di wilayah Kesultanan Buton, banyak ajaran telah dipraktikkan oleh pemerintah dan masyarakat. Statuta Kesultanan Buton disebut Murtabat Tujuh dan sangat dekat dengan tasawuf. Undang-undang ini secara formal mengatur tugas, fungsi, dan posisi kekaisaran.

Masa Kejayaan Kerajaan Buton

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Buton menjalin hubungan baik dengan semua kerajaan Sulawesi, bahkan pulau Jawa. Ikatan diplomatik telah menguntungkan ekonomi di Kesultanan Buton, terutama karena hubungan dagangnya.

Pada abad ke-17, pemerintah Buton telah mengembangkan sistem pajak yang sangat baik dibandingkan dengan kerajaan lain di Sulawesi. Kesultanan Buton juga memiliki alat tukar atau mata uang yang disebut Kampua. Media pertukaran ini terbuat dari kain.

Kesultanan Buton memiliki sistem yang sangat baik dalam praktik hukum. Hukum diterapkan tanpa pandang bulu untuk seluruh komunitas Butone. Siapa pun yang melakukan kesalahan hukum, baik warga negara atau petugas pengadilan, akan dihukum. Sepanjang sejarahnya, 12 Sultan Butons telah dihukum karena melanggar aturan.

Kesultanan Buton membangun benteng untuk melindungi kerajaan dari berbagai ancaman. Benteng ini dibangun pada 1634 pada masa pemerintahan Sultan La Buke. Benteng ini dibangun di ketinggian 2.740 meter untuk melindungi area seluas 401.900 meter persegi.

Dinding benteng tebal 2 meter dan tinggi 2 hingga 8 meter. Benteng ini juga dilengkapi dengan 16 benteng atau menara pengawal dan 12 gerbang. Benteng ini terletak di daerah perbukitan, sekitar 3 kilometer dari pantai.
Kesultanan Buton memiliki hubungan yang baik dengan VOC. Pada 1612 VOC mengirim utusannya ke wilayah Buton dan pada 1613 tercapai kesepakatan antara VOC dan Buton. Antara lain, isi perjanjian akan membantu melindungi Buton dari berbagai serangan musuh, sementara VOC akan diberikan izin untuk menetap di wilayah Buton.

Tetapi VOC jelas memiliki niat buruk di pulau itu, yang berada dalam posisi yang sangat strategis untuk mengendalikan rute perdagangan di wilayah timur. Buton memang menjadi salah satu mal rempah-rempah di Indonesia Timur, sehingga Belanda sangat menginginkannya.

Hubungan antara keduanya mulai putus pada 1637 sampai terjadi perang satu tahun. Perang telah menyebabkan banyak korban di kedua sisi. Namun, sampai akhir perang, VOC tidak dapat menggulingkan dan menaklukkan benteng Kesultanan Buton.

Perang muncul kembali pada 1752, 1755 dan 1776 karena VOC telah melakukan penipuan rempah-rempah di wilayah buton, yang sangat tidak menguntungkan. Di bawah kepemimpinan Sultan La Karambau, Buton berhasil menyalip Belanda.

Namun, konflik internal di dalam kerajaan melemahkan kekuatan Kesultanan Buton. Berbagai ancaman terus menyelimuti Buton hingga Indonesia akhirnya merdeka pada 1945. Kesultanan Buton dimasukkan ke dalam pemerintah Indonesia, wilayah administrasi provinsi Sulawesi tenggara.

Sumber : https://www.masterpendidikan.com/

Baca Juga :